PERPUSTAKAAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA
REPOSITORY
Select Language

Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
License

This Software is Released Under GNU GPL License Version 3.

indexed
Visitors
Flag Counter

Statistic
Total Collection:
Title LAPORAN STUDI KASUS RSUD Dr. KANUJOSO DJATIWIBOWO BALIKPAPAN Analisis Penanganan Sediaan Steril Sitostatika dan Non-Sitostatika di Depo 5 Lavender dan Depo 7 Handling Steril RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan
Edition No. 23
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s) Naifa Rossida dkk - Personal Name
Subject(s) Penanganan Sediaan Steril
Classification
Series Title
GMD Laporan PKL
Language Indonesia
Publisher Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
Publishing Year 2026
Publishing Place Samarinda
Collation
Abstract/Notes Sediaan steril parenteral, baik obat suntik intravena (IV), infus racikan,
elektrolit pekat, nutrisi parenteral, maupun obat kanker (sitostatika), merupakan
kelompok sediaan dengan risiko paling tinggi di rumah sakit. Sediaan ini
dimasukkan langsung ke dalam aliran darah pasien sehingga setiap kontaminasi
mikroba, partikel, maupun kesalahan dosis dapat berakibat fatal. Khusus untuk obat
sitostatika, risiko tidak hanya mengenai pasien, tetapi juga petugas yang melakukan
pencampuran, karena obat golongan ini bersifat karsinogenik, mutagenik, dan
teratogenik bila terpapar dalam jangka panjang.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit menetapkan bahwa dispensing sediaan
steril harus dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dengan teknik
aseptik untuk menjamin sterilitas dan stabilitas produk, melindungi petugas dari
paparan zat berbahaya, serta menghindari terjadinya kesalahan pemberian obat.
Kegiatan tersebut meliputi pencampuran obat suntik, penyiapan nutrisi parenteral,
dan penanganan sediaan sitostatika.
Di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan, penanganan
sediaan steril dilaksanakan oleh dua unit. Depo 5 Lavender bertanggung jawab atas
pencampuran obat kemoterapi (handling cytotoxic) untuk pasien kanker dewasa dan

anak, sedangkan Depo 7 Handling Steril melayani peracikan sediaan steril non-
sitostatika seperti obat injeksi IV, infus racikan, dan elektrolit pekat untuk pasien

rawat inap yang permintaannya berasal dari Depo 2 dan Depo 3.
Selama Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada 9 Februari sampai 10 April
2026, penulis mengamati bahwa kedua depo telah menjalankan prosedur aseptik
dengan baik, antara lain penggunaan Biological Safety Cabinet (BSC) Kelas II, alat
pelindung diri (APD), penetapan Beyond Use Date (BUD), serta distribusi
menggunakan cool box. Namun, terdapat beberapa hal yang masih dapat
ditingkatkan, yaitu belum tersedianya ante room di Depo 7, permintaan handling

2

yang masih dikirim melalui grup komunikasi dengan foto resep, perbedaan waktu
pemanasan BSC antar depo, serta penundaan kemoterapi apabila obat belum
tersedia. Hal inilah yang mendasari penyusunan studi kasus ini.
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous