<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://senayan.diknas.go.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="2566">
<titleInfo>
<title>LAPORAN STUDI KASUS
DESA BADAK BARU, MUARA BADAK
STUDI KASUS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI WORKSHOP PEMANFAATAN DAN PENANAMAN BUNGA ROSELLA SEBAGAI TANAMAN HERBAL</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Muhammad Marwan Ramadhan</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Samarinda</placeTerm></place>
<publisher>Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda</publisher>
<dateIssued>2026</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>No. 20</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Laporan PKL</form>
<extent></extent>
</physicalDescription>
<note>Desa Badak Baru merupakan salah satu desa di Kecamatan Muara Badak,
Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, yang dihuni oleh sekitar
8.752 hingga 9.000 jiwa penduduk yang tersebar dalam 34 Rukun Tetangga (RT)
pada enam dusun, meliputi Dusun Perintis, Dusun Kampung Baru, dan Dusun
Palacari beserta dusun lainnya. Keberagaman latar belakang suku bangsa yang
mendiami desa ini, mulai dari Jawa, Bugis, Mandar, Toraja, Batak, Banjar, hingga
Dayak, menjadikan Desa Badak Baru sebagai potret masyarakat multikultural
dengan dinamika mata pencaharian yang beragam, mulai dari karyawan swasta
perusahaan hingga petani dalam jumlah yang relatif terbatas. Letak geografis desa
yang berada di kawasan pesisir Kecamatan Muara Badak turut memengaruhi pola
aktivitas ekonomi warga, di mana sebagian penduduk juga menggantungkan
penghidupan pada sektor perikanan dan perkebunan skala rumah tangga, sementara
pekarangan rumah pada umumnya masih dimanfaatkan secara terbatas untuk
tanaman produktif maupun tanaman herbal. Kondisi pekarangan yang belum

3

banyak dioptimalkan ini merupakan pola umum yang juga ditemukan di berbagai
desa lain sebelum adanya program pemberdayaan, sebagaimana dilaporkan dalam
kajian mengenai pemanfaatan lahan pekarangan oleh kelompok perempuan desa
(Aslamiah et al., 2017).
Kehidupan sosial kemasyarakatan di Desa Badak Baru ditopang oleh
sejumlah organisasi yang aktif, antara lain Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga
(PKK) dan Karang Taruna, yang secara rutin terlibat dalam berbagai kegiatan
kemasyarakatan, termasuk pelayanan kesehatan melalui posyandu balita dan
posyandu lansia yang didukung oleh keberadaan satu unit puskesmas dan satu
klinik swasta setempat. Forum Desa Siaga turut berperan aktif dalam upaya
pelayanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh, sementara dari segi
pendidikan, desa ini telah memiliki empat Sekolah Dasar (SD) serta akses ke
jenjang pendidikan lanjutan seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), SMK Kesehatan,
dan SMKN 1. Modal sosial berupa aktifnya kelembagaan desa ini menjadi salah
satu faktor pendukung utama yang memungkinkan program pengabdian
masyarakat berbasis edukasi kesehatan dapat diterima dan diadopsi secara luas oleh
warga, sejalan dengan temuan bahwa dukungan struktur sosial dan kelembagaan
lokal merupakan salah satu penentu keberhasilan program KKN berbasis
pemberdayaan masyarakat (Basuki, 2019).
Meskipun modal sosial dan kelembagaan desa tergolong baik, observasi
lapangan dan koordinasi bersama Kepala Desa Badak Baru menemukan bahwa
pemanfaatan lahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di desa ini belum berjalan
secara optimal. Lahan TOGA yang tersedia pada area publik desa belum dikelola
secara maksimal sebagai media edukasi dan produksi tanaman herbal, cenderung
dibiarkan tumbuh seadanya tanpa perencanaan jenis tanaman maupun sistem
perawatan yang terstruktur. Kondisi ini sejalan dengan temuan berbagai kegiatan
pengabdian di desa lain yang juga melaporkan bahwa pemanfaatan TOGA
seringkali belum optimal akibat minimnya pengetahuan warga mengenai jenis
tanaman obat dan cara pengelolaannya secara berkelanjutan (Aslamiah et al., 2017;
Nafisah et al., 2026). Sementara itu, pengetahuan teknis warga mengenai cara
menanam dan merawat tanaman herbal tertentu, khususnya bunga rosella (Hibiscus

4

sabdariffa L.), masih sangat terbatas, baik dari aspek pemilihan bibit, teknik
penyemaian, maupun perawatan pascatanam. Di sisi lain, kesadaran masyarakat
mengenai cara mengolah bunga rosella menjadi minuman herbal yang higienis,
aman, dan berdaya guna juga belum berkembang, sehingga potensi kesehatan dan
ekonomi dari tanaman ini belum termanfaatkan secara berarti bagi warga,
khususnya kelompok ibu-ibu PKK dan kader kesehatan yang menjadi ujung tombak
edukasi kesehatan di tingkat rumah tangga. Permasalahan ini semakin relevan

mengingat kecenderungan masyarakat modern yang lebih mengandalkan obat-
obatan sintetis dan minuman kemasan pabrikan, sementara kearifan lokal dalam

memanfaatkan tanaman obat keluarga secara berangsur mulai ditinggalkan.
Secara konseptual, kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Kuliah
Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu wujud pelaksanaan Tri Dharma
Perguruan Tinggi yang menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of
change) dalam mendorong kesejahteraan masyarakat, khususnya pada aspek
kesehatan (Basuki, 2019). Melalui pendekatan partisipatif, program KKN Tematik
diarahkan untuk menumbuhkan empati dan kepedulian mahasiswa terhadap
permasalahan riil yang dihadapi masyarakat, sekaligus memberikan bekal
pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat dikelola secara mandiri oleh
warga setelah masa pengabdian berakhir, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai
kajian mengenai peran KKN sebagai sarana pendampingan masyarakat (Aliyyah et
al., 2021). Dalam konteks inilah, workshop pemanfaatan dan penanaman bunga
rosella dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan seremonial penanaman, melainkan
sebagai proses transfer pengetahuan yang berkelanjutan, mulai dari pemahaman
dasar mengenai tanaman herbal, teknik budidaya, hingga pengolahan produk akhir
yang siap dikonsumsi maupun dipasarkan.</note>
<subject authority=""><topic>WORKSHOP PEMANFAATAN</topic></subject>
<classification></classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>PERPUSTAKAAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA REPOSITORY</physicalLocation>
<shelfLocator></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">STUDI020</numerationAndChronology>
<sublocation>Perpus.Akfarsam</sublocation>
<shelfLocator></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="2291" url="https://drive.google.com/file/d/1a9B6GfPGqUYUY487S6ieadzpb9ZPdrdN/view?usp=sharing" path="/https://drive.google.com/file/d/1a9B6GfPGqUYUY487S6ieadzpb9ZPdrdN/view?usp=sharing" mimetype="text/uri-list">LAPORAN STUDI KASUS DESA BADAK BARU, MUARA BADAK STUDI KASUS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI WORKSHOP PEMANFAATAN DAN PENANAMAN BUNGA ROSELLA SEBAGAI TANAMAN HERBAL</slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier>2566</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-10-30 15:42:27</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-10-30 15:42:58</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>