|
Select Language
Simple Search
Advanced Search
License
This Software is Released Under GNU GPL License
Version 3.
indexed
Visitors
Statistic
|
| Title |
Pemeriksaan Kesehatan dan Penyuluhan Hipertensi serta Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi pada Masyarakat Desa Muara Badak Ilir, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara |
| Edition |
No. 13 |
| Call Number |
|
| ISBN/ISSN |
|
| Author(s) |
apt. Ariska Wigatiningtyas, M.Farm - Personal Name apt. Burhanudin Gasim Soka, M.Farm - Personal Name Saidah, S.Farm, M.Farm - Personal Name
|
| Subject(s) |
Kepatuhan minum obat Pemeriksaan Kesehatan Penyuluhan Hipertensi
|
| Classification |
|
| Series Title |
|
GMD |
Laporan PKL |
| Language |
Indonesia |
| Publisher |
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda |
| Publishing Year |
2026 |
| Publishing Place |
Samarinda |
| Collation |
|
| Abstract/Notes |
Tekanan darah sistolik yang tinggi merupakan faktor risiko dengan
kontribusi terbesar terhadap beban penyakit global. Studi Global Burden of Disease
2023 menempatkan tekanan darah sistolik tinggi sebagai faktor risiko tingkat 3
dengan proporsi disability-adjusted life-years (DALY) tertinggi, yaitu 8,4% dari
seluruh DALY global, di atas polusi partikulat, glukosa plasma puasa tinggi, dan
merokok (GBD 2023 Diseases and Injuries Collaborators, 2025). Penyakit jantung
iskemik dan stroke, dua penyakit dengan DALY tertinggi pada kelompok penyakit
tidak menular, merupakan komplikasi langsung dari hipertensi yang tidak
terkendali.
Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi
hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah sebesar 30,8% pada penduduk
berusia 18 tahun ke atas, sedangkan prevalensi berdasarkan diagnosis dokter hanya
8,6% (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2024). Selisih kedua angka
tersebut 22,2 poin persen; artinya 72,1% kasus hipertensi hasil pengukuran tidak
tercatat sebagai diagnosis dokter. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa mayoritas
penderita hipertensi tidak mengetahui kondisinya, sehingga pengukuran tekanan
darah di tingkat komunitas memiliki nilai deteksi yang tinggi.
Masalah tidak berhenti pada deteksi. Meta-analisis 123 studi terhadap
1.052.445 orang dewasa dengan hipertensi menunjukkan bahwa prevalensi
kepatuhan minum obat antihipertensi secara global hanya 58%, dengan angka 56%
untuk Asia dan 35% penderita berada pada kategori kepatuhan rendah (Ngolombe
et al., 2026). Di Indonesia, data Riskesdas 2018 untuk Provinsi Banten mencatat
31,73% penderita hipertensi tidak minum obat secara rutin dan 13,64% tidak
minum obat sama sekali, dengan alasan utama merasa sudah sehat (61,2%)
2
(Riskesdas 2018 dalam Agita et al., 2026). Alasan tersebut menunjukkan
kesalahpahaman mendasar tentang sifat hipertensi sebagai penyakit kronis yang
tidak selalu menimbulkan gejala. Selain itu, studi di 11 fasilitas pelayanan primer
di Indonesia menemukan bahwa pasien yang mengalami reaksi obat yang tidak
dikehendaki memiliki peluang tujuh kali lebih besar untuk tidak patuh (aOR 7,15;
IK 95% 4,07 sampai 12,55) (Insani et al., 2025).
Berdasarkan kondisi tersebut, dosen bersama mahasiswa Kuliah Kerja
Nyata (KKN) STIKES Samarinda melaksanakan pemeriksaan kesehatan yang
disertai penyuluhan hipertensi dan kepatuhan minum obat antihipertensi bagi
masyarakat Desa Muara Badak Ilir pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Pernyataan masalah. Bagaimana merancang, melaksanakan, dan
mengevaluasi kegiatan pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan di tingkat desa yang
tidak hanya mendeteksi tekanan darah tinggi, tetapi juga menjawab penyebab utama
ketidakpatuhan minum obat antihipertensi, yaitu anggapan bahwa obat boleh
dihentikan ketika penderita merasa sehat? |
| Specific Detail Info |
|
| Image |
 |
| File Attachment |
LOADING LIST... |
| Availability |
LOADING LIST... |
| |
Back To Previous |
|