PERPUSTAKAAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA
REPOSITORY
Select Language

Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
License

This Software is Released Under GNU GPL License Version 3.

indexed
Visitors
Flag Counter

Statistic
Total Collection:
Title Analisis Alur Pelayanan Resep Rawat Jalan dan Penanganan Resep Pending Akibat Kekosongan Obat di Depo 1 RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan
Edition No. 11
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s) Naifa Rossida dkk - Personal Name
Subject(s) LAPORAN STUDI KASUS
Classification
Series Title
GMD Laporan PKL
Language Indonesia
Publisher Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
Publishing Year 2026
Publishing Place Samarinda
Collation
Abstract/Notes Pelayanan resep merupakan kegiatan farmasi yang paling banyak
berinteraksi langsung dengan pasien. Kualitasnya dinilai pasien terutama dari
lamanya waktu tunggu, kelengkapan obat yang diterima, dan kejelasan informasi
obat. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal Rumah Sakit menetapkan waktu tunggu pelayanan obat jadi
paling lama 30 menit dan obat racikan paling lama 60 menit, serta tidak adanya
kejadian kesalahan pemberian obat (100%).
Depo 1 RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan melayani
resep pasien rawat jalan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan dari berbagai
poliklinik spesialis, serta penyediaan cairan dan alat bahan habis pakai (ABHP)
untuk layanan one day care seperti hemodialisa, talasemia anak, dan radiologi.
Depo ini telah menerapkan e-resep melalui SIMRS, nomor antrean mandiri melalui
mesin kios, pemisahan antrean racikan, non-racikan, dan geriatri, pengemasan awal
obat yang sering diresepkan, serta layanan antar obat bekerja sama dengan PT Pos
Indonesia dan Anter Bae.
Meskipun sistem pelayanan sudah cukup maju, penulis mengamati satu titik
yang berdampak langsung pada pasien, yaitu penanganan obat yang tidak dapat
dilayani karena stok kosong. Bila obat baru tersedia dalam 7 hari, pasien diminta
kembali dengan status antrean pending. Bila lebih dari 7 hari, pasien harus berobat
ulang dan nomor antrean sebelumnya dibatalkan. Pasien BPJS juga tidak boleh
diberikan salinan resep, melainkan bon obat yang hanya berlaku satu kali
pengambilan. Kondisi ini menambah beban kunjungan pasien, terutama pasien
lanjut usia dan pasien penyakit kronis, sehingga dipilih sebagai topik studi kasus.
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous