PERPUSTAKAAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA
REPOSITORY
Select Language

Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
License

This Software is Released Under GNU GPL License Version 3.

indexed
Visitors
Flag Counter

Statistic
Total Collection:
Title STUDI KASUS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGUATAN KETAHANAN PANGAN DAN PERBAIKAN GIZI KELUARGA MELALUI PROGRAM TANAM SAYUR, INOVASI OLAHAN SAYUR DAN EDUKASI GIZI SEIMBANG
Edition No. 10
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s) Ameliora Dwi Astani, M.Gz - Personal Name
Kiki Rizky Ananda, M.Gz - Personal Name
Subject(s) PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
PENGUATAN KETAHANAN PANGAN
Classification
Series Title
GMD Laporan PKL
Language Indonesia
Publisher Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda
Publishing Year 2026
Publishing Place Samarinda
Collation
Abstract/Notes Ketahanan pangan keluarga merupakan fondasi penting dalam mendukung
pemenuhan gizi dan kesehatan masyarakat. Ketahanan pangan tidak hanya
mencakup ketersediaan pangan yang cukup, aman, dan bergizi, tetapi juga
keterjangkauan akses serta stabilitas pasokan dalam jangka panjang. Di tingkat
rumah tangga, ketersediaan pangan yang beragam menjadi kunci untuk memenuhi
kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, serat, dan komponen bioaktif yang
diperlukan tubuh.
Sayuran memegang peranan krusial dalam penerapan gizi seimbang karena
kekayaan zat gizi dan senyawa bioaktifnya. Kandungan vitamin, mineral, serat, dan
fitokimia dalam sayuran berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang,
menjaga sistem imun, dan membantu mencegah penyakit degeneratif. Pedoman
Gizi Seimbang di Indonesia menganjurkan konsumsi 5 kelompok pangan, termasuk
sayur, setiap kali makan. Untuk anak usia sekolah (7–12 tahun), anjuran konsumsi
sayur adalah 3 porsi sehari, di mana 1 porsi sayur setara dengan 100 gram.

3

Namun, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa
konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Sebanyak
96,7% penduduk berusia ≥5 tahun tergolong kurang mengonsumsi sayur dan buah
berdasarkan kriteria konsumsi minimal lima porsi per hari selama tujuh hari dalam
seminggu (SKI, 2023). Pada kelompok usia 15–19 tahun, hanya 2,5% yang
mengonsumsi ≥5 porsi per hari, sementara 14,8% tidak mengonsumsi sayur dan
buah sama sekali dalam seminggu. Kondisi serupa juga terjadi pada kelompok usia
20–24 tahun, dengan hanya 3,2% yang memenuhi anjuran konsumsi sayur dan
buah.
Rendahnya konsumsi sayur dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk
atribut sensorik sayuran, faktor psikososial (pengetahuan gizi, preferensi, efikasi
diri, motivasi), serta faktor gaya hidup seperti harga, waktu, dan kemudahan
memperoleh sayuran. Lingkungan rumah, pengaruh orang tua dan teman sebaya,
lingkungan sekolah, pendidikan gizi, dukungan guru, serta ketersediaan dan
aksesibilitas sayuran turut membentuk kebiasaan konsumsi sayur.
Upaya peningkatan konsumsi sayur memerlukan pendekatan yang tidak
hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga pada peningkatan akses keluarga terhadap
sayuran. Pemanfaatan lahan rumah melalui kegiatan tanam sayur dapat
meningkatkan ketersediaan sayuran segar. Namun, ketersediaan sayuran belum
tentu meningkatkan konsumsi apabila keluarga belum memiliki pengetahuan dan
keterampilan dalam mengolahnya menjadi makanan yang menarik dan sesuai
dengan preferensi keluarga. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan terintegrasi
yang menggabungkan peningkatan ketersediaan sayuran, keterampilan pengolahan,
dan pengetahuan gizi.
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous