PERPUSTAKAAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA
REPOSITORY
Select Language

Simple Search

Advanced Search
Title :
Author(s) :
  • SEARCHING...

Subject(s) :
  • SEARCHING...

ISBN/ISSN :
GMD : Collection Type : Location :
License

This Software is Released Under GNU GPL License Version 3.

indexed
Visitors
Flag Counter

Statistic
Total Collection:
Title Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 14 No 2 (2025)
Edition Vol 14 No 2 (2025)
Call Number
ISBN/ISSN
Author(s)
Subject(s) antikoagulan
aPTT
kardiovaskular
Classification
Series Title
GMD Jurnal
Language Indonesia
Publisher Universitas Padjajaran
Publishing Year 2025
Publishing Place
Collation
Abstract/Notes Abstrak
Antikoagulan merupakan obat pengencer darah untuk mencegah pembentukan dan perkembangan
trombus pada aliran darah. Warfarin dan heparin termasuk antikoagulan generasi lama. Rivaroxaban,
edoksaban, dabigatran, dan apiksaban termasuk antikoagulan generasi baru. Obat ini memerlukan monitor
yang ketat karena berindeks terapi sempit, dan memiliki potensi efek samping obat berupa perdarahan.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan antikoagulan terhadap perubahan nilai
aPTT dan mengetahui adanya kejadian adverse drug reaction (ADR) pada pasien kardiovaskuler di RSUD
Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode penelitian ini dilakukan dengan rancangan deskriptif
observational retrospektif, serta pengumpulan data didapat dari data rekam medis pasien rawat inap
penyakit kardiovaskuler. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden paling banyak terdiagnosis
miokard infark sebesar 39,9%, berusia 20–60 tahun (44%) dan paling banyak berjenis kelamin lakilaki (69,8%). Penggunaan antikoagulan yang digunakan pada responden penelitian ini, antara lain:
heparin i.v. (64,70%), warfarin oral (14,11%), fondaparinux i.v. (18,86%), rivaroxaban oral (1,17%),
dan enoxaparin oral (1,17%). Kejadian ADR yang timbul pada pasien yang menggunakan antikoagulan
UFH mengalami hematuria (56,52%), epistaksis (13,04%), melena (13,04%), batuk berdarah (8,7%),
hematemesis (4,35%), dan gusi berdarah (4,35%). Sedangkan pasien yang menggunakan antikoagulan
fondaparinux mengalami hematuria (66,67%), epistaksis (11,11%), hematemesis (11,11%), dan gusi
berdarah (11,11%). Hasil paired t-test menunjukkan terdapat pengaruh perubahan nilai aPTT setelah
penggunaan antikoagulan heparin (p
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous